KELUARGAKU MOTIVASIKU
Balqis merupakan anak yang manja dan selalu mengandalkan orang orang disekelilingnya. Dia sangat menyayangi ibu, ayah, dan adiknya. Mereka selalu memberikan yang terbaik dan paling baik untuknya.
Sekilas balqis mengingat betapa indah masa kecilnya dulu, dikala dia sakit, dia bahagia, maupun dikala dia sedih. Merekalah yang selalu ada disamping balqis dan selalu menyemangatinya untuk bangkit. Pelukan dari merekalah yang membuatnya tenang.
Mereka mengajarinya arti kehidupan, kesabaran, keikhlasan, rasa bersyukur dan perjuangan dalam hidup. Sudah beberapa keringat dan tetesan air mata yang mereka keluarkan untuknya. Besar kecil kesalahan balqis padanya mereka selalu memaafkan dan menasihatinya dengan tutur kata yang lembut dan penuh kasih sayang. Senyuman dan dorongan dari merekalah yang membuatku semangat untuk menuju masa depan.
Kini aku mulai beranjak dewasa sekarang usiaku 12 tahun, aku akan merubah segala kebiasaan - kebiasaan buruk diriku. Aku mulai berjanji pada diriku sendiri! "Aku bukan anak manja yang selalu bergantung kepada orang lain. Aku bukan anak manja yang selalu mengadu dan mengeluh pada ibu dan ayahku. Aku akan berjuang dan berusaha sendiri. Aku tidak boleh menyerah dalam keadaan apapun, aku akan buktikan suatu saat nanti bahwa aku pasi bisa"
Itu janjiku pada diriku yang hingga sekarang sedang aku jalani. Walau sulit sekali untuk aku kerjakan dan banyak sekali hambatan yang menghampiriku dan menghancurkan semangatku untuk jadi lebih baik, tetapi aku memiliki tuhan yang selalu bersamaku dan menjagaku disaat apapun.
Pada saat aku duduk dibangku sekolah kelas 6 SD aku mendapat perintah dan ajakan dari ibu guru untuk mengikuti lomba pidato sekecamatan. "Balqis apakah kamu siap untuk mengikuti lomba pidato?" tanya bu guru padaku. "Hah.. lomba pidato bu?" balik tanya aku pada bu guru. "Iya lomba pidato, ibu lihat kamu memliki potensi untuk pidato" jawab bu guru. "Baiklah bu, saya akan mengusahakannya" jawabku
Setelah pulang sekolah, akupun langsung memberitahu pada ibu. "Bu, tadi disekolah aku diajak oleh bu guru untuk mengikuti lomba pidato sekecamatan" kataku. "Oh ya? Apakan kakak bisa?" jawab ibu. "Tidak tau bu, tapi aku takut kalah" jawabku sambil merunduk. "Sekarang kakak bertusaha saja dulu, soal menang dan kalah itu sudah biasa." jawab ibu sambil memeluku. "Baiklah bu, kakak akan mencobanya." jawabnya dengan semangat.
Waktupun berlalu begitu cepat, satu bulan sudah aku berlatih pidato untuk lomba. Aku sedikit cemas dan tidak percaya diri. Tetapi ibu dan ayah selalu memberikan semangat . Keesokan harinya, tepat pad hari rabu akupun siap siap untuk berlomba pidato, "Bu, do'akan aku ya, sekarang aku lomba semiga saja nanti aku mendapatkan hasil yang memuaskan." Kataku pada ibu dengan raut muka sedikit cemas. "Ibu akan selalu, dan terus medoakan kamu nak. Semoga selama satu bulan kamu berlatih pidato, kamu bisa mendapatkan hasil yang memuaskan. Tapi ibnu tidak pernbah menuntutmu untuk untuk menang, ibu melihat kamu semangat ingin mengikuti lomba juga sudah sangat bangga. Ingatlah nak, karena prosesa tidak akan menghianati hasil." Jawab ibu dengan penuh kasih sayang. "Terimaksih bu, karena ibu selalu menyemangati dan memotivasi aku." kataku dengan hati yang sangat senang.
Berangkatlah aku bersama bu guru ke kecamatan untuk menmpilkan pidatoku. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar akupun dengan penuh semanagt menampilkan oidato dihadapan banyak orang. Akupun langsung kerumah ketika acaranya sudah selesai. "Kak, bagaimana tadi tamoilnya?" tanya ibu sambil tersenyum. "Alhamdulillah bu kakak lancar dalam menyamoaikan materinya." jawabku dengan sedikit rasa lega. "Alhamdulillah kalo begitu, sekarang kita tinggal menunggu hasilnya, bagaimanapun hasilnya kita harus menerimanya dengan lapang dada." kata ibu dengan penuh harap.
Tiga hari sudah berlalu, dan kini pengumuman lomba akan segera diumumkan. "Balqis, alhamdulillah kamu masuk 3 besar lomba pidato kemarin." Kata bu guru dengan ungkapan bahagia. "Benarkah bu?" tanyaku tak menyangka. "Benar qis, ibu baru saja mendapat informasi bahwa kamu mendapat juara 2 sekecamatan." jawab bu guru.
Akupun langsung berbicara dan memberi tahu pada ibu bahwa aku mendapat juara 2 sekecamatan. "Bu, aku juara 2 bu lomba pidato kemarin" kataku dengam hati senang. "Alhamdulillah sekali kak. Kan ibu juga sudah bilang bahwa tidak akan ada perjuangan yang sia sia." jawab ibu.
Aku merasa senang tapi aku juga merasa sedih, karena aku tidak bisa mendapat juara 1. Mungkin sekarang aku belum bisa memberi kebahagiaan sepenuhnya untuk kedua orang tuaku namun aku mempunyai sekilas doa sederhana yang setiap hari bahkan setiap detik aku ucapkan dakam sholatku ataupun dalam kesendirianku.
"Semoga aku diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi. Beri aku kesempatan tuhan untuk menjadi lebih baik lagi. Bari aku kesempatan tuhan untuk menjadi anak yang bisa membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa. Beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan ibu dan ayahku serta keluargaku, dan beri aku keteguhan iman dalam menjalani kehidupan yang mulus. Karena orang tuaku selalu menjadi motivasi bagiku untuk lebih baik lagi."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar